Toraja Roroan Bara-Barra Kopikohlie


Toraja Roroan Barra-Barra

Kopikohlie

Proses Pasca Panen
Metode Basah
Penyeduh
Pribadi
Profil Sangrai
Medium Light
Metode Seduh
Hario V60
Tanggal Sangrai
7 Mei 2015
Tanggal Seduh
11 Mei 2015
Harga
Rp 75.000 per 250gr
Nilai
8.5/10

Rasa yang Timbul
Rempah-rempah, Jahe, Gula Jawa, Asam Jawa, Gurih

Berbicara mengenai kopi Indonesia pasti tidak akan lepas dari kopi yang berasal dari daerah Toraja. Wajar saja, daerah Tana Tinggi Toraja sudah terkenal sebagai penghasil kopi sejak dari zaman Belanda. Namun demikian, sejarah mengenai kopi dari daerah Toraja memiliki banyak ketidakjelasan. Bahkan, terdapat beberapa versi mengenai asal-usul keberadaan tanaman kopi di daerah ini: antara dibawa oleh Pemerintah Belanda pada saat itu atau oleh pedagang Arab sebelum kedatangan Belanda di Tana Toraja. Tapi yang jelas, kopi di daerah Toraja sudah menjadi komoditas utama sejak akhir abad 19. Perdagangan kopi di daerah Toraja mengubah pola hidup dan demografi masyarakat di daerah Toraja dengan mendorong masuknya suku Bugis dan senjata api di Toraja sehingga menciptakan ketegangan antar-etnis. Meskipun literatur mengenai hal ini sangat terbatas, dari literatur yang tersedia disebutkan bahwa persaingan pedagang-pedagang kopi di Toraja untuk memonopoli perdagangan kopi sempat memicu perang yang sering disebut Perang Kopi Toraja pada akhir abad 19 yang memecah masyarakat Toraja hingga kedatangan Belanda memaksa mereka untuk bersatu melawan penjajah. 

Kopi yang disangrai oleh Kopikohlie ini berasal dari Lembang Roroan Barra'-Barra' di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Metode pasca panen yang digunakan adalah metode basah (full-washed) dimana kopi dikupas hingga bersih, termasuk kulit tanduk (mucilage) yang menempel pada biji. Proses ini merupakan proses yang sering digunakan di dunia. Bahkan, hampir 50% kopi di dunia diproses dengan metode basah dan untuk kopi spesialti, proses ini merupakan cara yang lebih disukai. Pada proses ini, pertama, kulit buah dikupas menggunakan mesin pulper dan air dalam proses pulping. Kemudian, biji kopi difermentasikan selama 1 hingga 2 hari dan dicuci untuk menghilangkan lapisan gula (mucilage) yang menempel pada biji. Setelah itu, biji kopi dikeringkan kembali hingga kadar airnya mencapai 12% sebelum dibersihkan lagi menggunakan huller. Proses ini dapat menghasilkan kopi berkualitas tinggi, namun membutuhkan air yang banyak — antara 2 hingga 10 Liter air per kilogram biji — dan membutuhkan manajemen yang sangat baik pada saat proses fermentasi dan pencucian untuk memastikan rasa kopi tidak rusak dalam proses pasca panen. Jika dilakukan dengan benar, hasil dari proses basah lebih bersih dan lebih konsisten dibandingkan proses lainnya.

Hasil seduhan kopi Toraja Roroan Barra-Barra ini memiliki aroma manis vanila yang bercampur dengan coklat dan aroma rempah-rempah. Secara rasa, kopi ini merupakan kopi yang kompleks dan intens dengan rasa rempah yang dominan dan manis gula jawa. Saat meminum kopi ini, terdapat rasa gurih di ujung lidah kemudian dilanjutkan dengan rasa jahe dan rempah yang intens. Keasaman kopi ini cenderung rendah sementara kekentalan kopi ini termasuk dalam level menengah. Saat kopi mulai dingin, terdapat rasa asam jawa yang muncul dari seduhan kopi.

Kopi ini sangat cocok bagi peminum kopi yang menyukai rasa kopi yang kompleks dan kuat. Selain itu juga, karena rasanya yang intens, kopi ini juga cocok menjadi kopi di pagi hari dimana karakter tersebut dibutuhkan untuk memulai hari. Namun, karena intensitas rasa yang kuat ini, kopi ini kurang cocok bagi peminum kopi yang menginginkan rasa kopi yang lebih lembut. 

Artikel Terkait