Kono Meimon


Kono Meimon


Salah satu peristiwa yang terjadi dalam dunia perkopian di Indonesia akhir-akhir ini adalah kehadiran alat pembuat kopi Kono Meimon. Alat ini disediakan secara massal oleh Philocoffee pada akhir tahun 2014 dan mulai digunakan secara luas oleh penyeduh profesional dan rumahan di Indonesia. Meskipun alat ini baru dikenal di Indonesia, keberadaan alat ini ternyata sudah ada di Jepang sejak tahun 1973. Alat ini diproduksi oleh perusahaan Coffee Syphon co. ltd. yang merupakan perusahaan manufaktur alat seduh syphon sejak tahun 1925. Perusahaan ini memproduksi Kono Meimon pada tahun 1973 setelah melakukan riset selama 5 tahun.

Secara bentuk, pada dasarnya alat ini adalah kerucut yang mengalirkan air melewati bubuk kopi dengan saringan kertas. Sekilas, alat ini menyerupai Hario V60 yang sudah populer terlebih dahulu di kalangan penyeduh di Indonesia. Namun, pada inspeksi yang lebih mendetail, terlihat beberapa perbedaan antara kedua alat tersebut. Perbedaan pertama yang paling menonjol adalah keberadaan alur di Kono Meimon yang tidak sepanjang Hario V60. Berbeda dengan Hario V60 yang memiliki alur spiral yang mengelilingi corong, alur di Kono Meimon hanya berbentuk lurus dan berada di ujung corong. Selain itu, kedua alat seduh tersebut juga memiliki perbedaan diameter lubang kerucut di lokasi keluarnya kopi. Kono Meimon memiliki diameter yang lebih kecil (1 cm) daripada Hario V60 (1.7 cm). Terakhir, perbedaan antara Kono Meimon dan Hario V60 adalah penggunaan kertas yang berbeda. Dari pengalaman beberapa pengguna, kertas yang diproduksi oleh Kono memiliki pori-pori yang lebih kecil sehingga kertas tersebut lebih menahan laju air daripada kertas yang diproduksi oleh Hario. Selain itu juga, berdasarkan pengalaman dari beberapa pengguna, kertas yang diproduksi oleh Kono tidak meninggalkan rasa kertas pada seduhan sehingga tidak memerlukan pencucian sebelum penyeduhan.

Gambar Perbandingan Hario V60 dan Kono Meimon dari Ital Coffee
Gambar Perbandingan Hario V60 dan Kono Meimon dari Ital Coffee

Semua perbedaan tersebut berdampak pada metode yang digunakan untuk menyeduh kopi dengan menggunakan Kono Meimon. Yang perlu diingat saat menyeduh dengan Kono Meimon adalah karakteristik alat seduh ini untuk menahan laju air. Hal ini perlu diingat terutama bagi penyeduh yang terbiasa menyeduh dengan menggunakan Hario V60. Pada alat Hario V60, terdapat alur di sepanjang corong yang berfungsi sebagai jalur keluarnya gas dan memandu air untuk keluar dari outlet alat ini. Pada Hario V60, direkomendasikan untuk melakukan penuangan air yang menerus dan dan dilakukan dengan memutar aliran air. Dengan cara ini, Hario V60 dapat melarutkan zat-zat yang terkandung dalam kopi dengan sangat baik. Akan tetapi, metode ini kurang cocok untuk digunakan pada Kono Meimon yang menahan laju air. Dari pengalaman pribadi, cara penuangan ini akan menghasilkan hasil seduhan yang cenderung hambar. Hal ini mungkin disebabkan oleh interaksi air dan kopi yang berlebih akibat berkurangnya debit air yang keluar.

Ilustrasi Metode Perkolasi dengan Teko Yukiwa
Mengingat hal tersebut, sejauh ini terdapat dua cara yang lazim digunakan untuk membuat kopi dengan menggunakan Kono Meimon. Cara pertama adalah dengan meneteskan air pada kopi secara perlahan atau sering disebut metode perkolasi. Cara ini adalah cara yang biasa digunakan oleh penjual alat ini, Philocoffee. Cara yang kedua adalah dengan menuang air ke tengah lingkaran dengan debit kecil sambil memastikan muka air tidak berada di atas gundukan kopi. Dengan kedua cara di atas, aliran air akan melarutkan zat-zat di dalam kopi dengan sedikit turbulensi. Hasilnya adalah ekstraksi kopi yang tuntas dan merata sehingga rasa kopi yang dihasilkan cenderung lebih intens dengan rasio perbandingan air dan kopi yang sama.

Untuk mempermudah metode tuang dengan debit yang sangat kecil, diperlukan teko dengan mulut teko yang khusus. Salah satu teko yang dirancang untuk mengeluarkan air dalam bentuk tetesan adalah teko dengan merek Yukiwa. Pada teko ini, mulut teko melebar dan berbelok kebawah sehingga air yang keluar dapat dikontrol dengan mudah agar berbentuk tetesan. Sayangnya, belum ada importir yang menjual teko ini secara luas di Indonesia sehingga bagi penyeduh yang berminat untuk mendapatkan teko ini harus memesan langsung dari Jepang. Akan tetapi, bagi para penyeduh yang ingin mencoba metode tetes tanpa membeli teko Yukiwa juga dapat melakukan cara penyeduhan ini dengan bentuk mulut teko yang tipis dan lonjong. Teko jenis ini lebih mudah ditemukan karena tersedia di pasaran dan tidak perlu mengimpor sendiri. Contoh teko berujung lancip yang dapat dengan mudah ditemukan di penjual alat seduh manual di Indonesia adalah teko dengan merk Tiamo atau Kalita.

Ilustrasi Metode Perkolasi dengan Teko Tiamo
Kehadiran Kono Meimon dalam skena kopi di Indonesia membuka peluang baru bagi para penyeduh untuk mengeluarkan spektrum rasa dengan metode perkolasi yang relatif baru di kalangan penyeduh Indonesia. Hal ini membuka kesempatan bagi para penyeduh untuk mencoba dan bereksperimen dengan alat yang baru dirilis kurang dari satu tahun. Dari sini, kita bisa mendapatkan pemahaman yang lebih mengenai kopi yang kita cintai. Dan tentunya, dengan pemahaman yang kita dapatkan, kita bisa berbagi dengan penyeduh lain untuk bertukar pengalaman.

Jadi, bagi para penyeduh, mari mencoba dan silahkan berbagi cerita dalam segmen komentar!

Garut Hiji Coffee Roaster

Jawa Barat Garut 

Hiji Coffee Roaster

Proses Pasca Panen
Proses Madu
Penyeduh
Pribadi
Profil Sangrai
Medium Light
Metode Seduh
Kono Meimon
Tanggal Sangrai
5 November 2015
Tanggal Seduh
9 November 2015
Harga
Rp 90.000 per 200gr
Nilai
8/10

Rasa yang Timbul
Fermentasi Madu, Mangga, Jeruk, Karamel

Perkembangan industri kopi spesialti (specialty coffee) di Indonesia, khususnya di kawasan urban, telah memicu pertumbuhan banyak penyangrai (roaster) kopi spesialti di Indonesia. Menariknya, tidak hanya penyangrai berskala besar yang hadir meramaikan skena kopi di Indonesia. Penyangrai kopi berskala kecil (micro roaster) atau rumahan (home roaster) juga turut meramaikan dunia perkopian Indonesia. Dengan mesin sangrai berkapasitas 500 gr hingga 1 kg keberadaan penyangrai kopi berskala kecil ini menjadikan skena kopi di Indonesia menjadi lebih semarak. 

Hasil Sangraian Hiji Coffee Roaster
Salah satu penyangrai berskala kecil tersebut adalah Hiji Coffee Roaster yang berlokasi di Bandung. Dari daerah Cisitu yang terkenal sebagai area kos mahasiswa ITB dan dengan mesin sangrai yang dibuat sendiri, Hiji Coffee Roaster telah berhasil untuk menyangrai kopi dengan sangat baik. Hal ini terlihat dari hasil sangraian yang cukup merata pada profil sangrai yang cukup terang.

Kopi yang disangrai oleh Hiji Coffee Roaster adalah kopi dari Garut, Jawa Barat. Kopi ini ditanam pada ketinggian 1400 mdpl dan terdiri dari berbagai macam varietas biji kopi. Proses pasca panen yang digunakan adalah Proses Madu (Honey Process) dimana lapisan lendir (mucilage) yang menyelimuti biji kopi tidak dikelupas saat pengeringan dilakukan. Hasilnya, terdapat sedikit rasa fermentasi yang timbul pada seduhan kopi.

Pada saat diseduh, kopi ini mengingatkan pada Sunda Aromanis dengan rasa bebuahan yang kental. Seduhan kopi ini memiliki aroma vanilla yang bercampur asam bebuahan. Dari seduhan kopi ini, timbul rasa mangga dan manis fermentasi madu yang bercampur dengan rasa asam jeruk yang cukup intens dan pahit karamel. Menariknya, seduhan kopi ini memiliki kekentalan yang cukup tebal dengan kekentalan yang menyerupai sirup (syrupy consistency) terasa memenuhi rongga mulut. Setelah dingin, rasa asam jeruk dari seduhan kopi menurun dan terjadi peningkatan intensitas rasa mangga. Peningkatan intensitas rasa mangga ini terutama terasa di tenggorokan setelah kopi diteguk.

Secara umum, cita rasa kopi Garut yang disangrai Hiji Coffee Roaster adalah cita rasa tipikal dari kopi arabika yang diproses dengan cara honey process. Dengan rasa manis fermentasi dan asam bebuahan yang menonjol, kopi ini akan cocok bagi peminum kopi yang menyukai cita rasa asam dari seduhan kopi. Selain itu, karena rasa seduhan kopi yang cukup ringan, kopi ini juga cocok untuk diminum pada saat bersantai.

Batak Bolon Philocoffee


Sumatra Batak Bolon

Philocoffee

Proses Pasca Panen
Giling Basah
Penyeduh
Pribadi
Profil Sangrai
Medium 
Metode Seduh
Kono Meimon
Tanggal Sangrai
21 Oktober 2015
Tanggal Seduh
27 Oktober 2015
Harga
Rp 70.000 per 200gr
Nilai
8/10

Rasa yang Timbul
Tembakau, Cengkeh, Lada Hitam, Gula Merah, Rokok Kretek

Kopi Sumatera Batak Bolon yang disangrai oleh Philocoffee adalah kopi hasil budidaya perkebunan Klasik Beans Medan yang dipanen pada bulan April 2015. Biji kopi ini berasal dari daerah Dolok Sanggul dan Lintong yang ditanam pada ketinggian 1400-1600 mdpl dan merupakan campuran kopi multivarietas arabika seperti Ateng, Jember, dan Tim Tim. Menariknya, kopi ini disebut Batak Bolon karena kopi yang digunakan hanya kopi yang berukuran besar (dalam bahasa Batak, bolon) dengan ukuran biji kopi 7.5 mm - 8 mm.

Secara rasa, kopi ini merupakan kopi yang kompleks dengan cita rasa yang memenuhi semua ekspektasi dari kopi Sumatera. Pada saat diseduh, tercium aroma gula merah yang bercampur dengan vanilla dan rempah. Saat diminum, ditemukan rasa tembakau yang bercampur dengan cengkeh dan sedikit lada hitam. Sekilas, rasa kopi ini mengingatkan pada rasa rokok kretek seperti Djarum Cokelat. Saat kopi mulai dingin, rasa asam yang pada awalnya tidak terlalu muncul mulai terasa dan memberikan kompleksitas baru pada seduhan. 

Kopi Batak Bolon yang disangrai oleh Philocoffe ini cocok untuk dijadikan kopi pagi karena karakter rasa asam yang rendah dan hasil yang cukup kental. Namun, bagi para penikmat kopi yang lebih menyukai karakter asam buah pada seduhan kopi, kopi Batak Bolon tidak akan memenuhi keinginan tersebut.